Riset Operasi 2 dan 3
Metode di darat
a) Metode Grafik
b) Metode OBE
c) Metode Simpleks
d) Metode Dua Fasa
e) Metode Primal Dual
Moda Darat
Moda
transportasi merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan alat angkut yang
digunakan untuk berpindah tempat dari satu tempat ketempat lain. Moda yang
biasanya digunakan dalam transportasi dapat dikelompokkan atas moda yang ber
jalan didarat, berlayar di perairan laut dan pedalaman serta moda yang terbang
di udara. Moda yang didarat juga masih bisa dikelompokkan atas moda jalan, moda
kereta api dan moda pipa.
Moda Laut
Karena
sifat fisik air yang menyangkut daya apung dan gesekan yang terbatas, maka
pelayaran merupakan moda angkutan yang paling efektip untuk angkutan barang
jarak jauh barang dalam jumlah yang besar. Pelayaran dapat berupa pelayaran
paniai, pelayaran antar pulau, pelayaran samudra ataupun pelayaran pedalaman melalui
sungai atau pelayaran di danau. Didalam pelayaran biaya terminal dan perawatan
alur merupakan komponen biaya paling tinggi, sedangkan biaya pelayarannya
rendah.
Moda Udara
Moda
transportasi udara mempunyai karakteristik kecepatan yang tinggi dan dapat
melakukan penetrasi sampai keseluruh wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh
moda transportasi lain. Di Papua ada beberapa kota yang berada di pedalaman
yang hanya dapat dihubungkan dengan angkutan udara, sehingga papua merupakan
pulau dengan lebih dari 400 buah bandara/landasan pesawat/air strip dengan
panjang landasan antara 800 sampai 900 meter. Perkembangan industri angkutan
udara nasional, Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah
yang ada sebagai suatu negara kepulauan. Oleh karena itu, Angkutan udara
mempunyai peranan penting dalam memperkokoh kehidupan berpolitik, pengembangan
ekonomi, sosial budaya dan keamanan & pertahanan.
Metode
Transportasi
adalah
suatu metode yang digunakan untuk mengatur distribusi dari sumber – sumber yang
menyediakan produk – produk yang sama di tempat- tempat yang membutuhkan secara
optimal. Alokasi produk ini harus diatur sedemikian rupa karena terdapat
perbedaan biaya transportasi (alokasi) dari suatu sumber ke beberapa tujuan
yang berbeda – beda dan dari beberapa sumber ke suatu tujuan juga berbeda –
beda.
Ada
tiga macam metode dalam metode transportasi:
1. Metode Stepping
Stone
2. Metode
Modi (Modified Distribution)
3. MetodeVAM
(Vogel’s Approximation Method)
Kasus dalam
pemilihan rute
Pencarian
rute terpendek merupakan satu masalah yang banyak dibahas dalam transportasi,
misalnya seorang pengguna jalan ingin melakukan perjalanan dari suatu tempat
asal ke tempat tujuan, dimana dalam melakukan perjalanan tersebut pengguna
tentu akan menggunakan rute terpendek dari beberapa rute yang menghubungkan
asal dengan tujuannya. Dapat dilihat bahwa, penentuan rute terpendek memegang
peranan penting karena dapat mengefisiensikan jarak, waktu dan biaya yang
dibutuhkan untuk mencapai suatu daerah tujuan tertentu. Rute yang ditempuh oleh
pengguna jalan dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari umumnya hanyalah rute
yang sering (biasa) dilalui ataupun rute yang dianggab terpendek berdasarkan
persepsi pribadi/orang lain yang pada kenyataannya hal tersebut belum tentu
benar. Sebagai contoh, terkadang rute dengan jarak yang pendek mempunyai
tingkat kemacetan yang lebih tinggi sehingga waktu tempuh lebih lama dibanding
rute yang sedikit lebih panjang tetapi tingkat kemacetannya rendah. Hal ini
disebabkan karena masih tingginya persepsi pengguna jalan bahwa rute yang
pendek merupakan rute dengan waktu terpendek (tercepat). Dari hasil penelitian
diperoleh rute terpendek dengan perhitungan (baik dengan algoritma Dijkstra
maupun Floyd-Warshall) dan hasil wawancara/kuisioner. Dimana terlihat bahwa
hanya terdapat 33% pengguna jalan yang memilih rute tersebut, sama dengan rute
yang diperoleh dari hasil perhitungan, sedangkan pengguna jalan lainnya (67%) hanya
berdasarkan anggapan/persepsi dimana rute yang dipilihnya merupakan rute
terpendek. Persepsi pemilihan rute terpendek yang berbeda-beda dapat dilihat
dari latar belakang/alasan pengguna jalan dalam penentuan rute terpendek. Dari
hasil penelitian diperoleh 40% pengguna jalan memperhitungkan waktu tempuh
dalam melakukan pemilihan rute , 28% karena kebiasaan, 6% menganggap bahwa rute
yang dipilihnya terdapat lebih sedikit angkutan lainnya, 2% lebih sedikit
persimpangan dan 4% dengan alasan-alasan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
waktu tempuh merupakan alasan/latar belakang utama dalam pengguna jalan dalam
memilih rute.
Sejarah Teori
Antrian
System
antrian atau sering disebut juga waiting line theory diciptakan pada tahun 1909
oleh seorang matematikawan dan insinyur berkebangsaan Denmark yang bernama A.K
Erlang yang mempelajari fluktuasi permintaan fasilitas telepon dan
keterlambatan pelayanannya. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun
1913 yang dimulai menggunakan konsep dan struktur system antrian sebelum
mengembangkan model matematisnya. Teori ini dirancang untuk memperkirakan
berapa banyak langganan menunggu dalam suatu garis antrian, kepanjangan garis
tunggu, seberapa sibuk fasilitas pelayan, dan apa yang terjadi bila waktu
pelayanan atau pola kedatangan berubah.
Biasanya antrian
terlihat setiap harinya pada:
1. Deretan mobil
yang mengantri untuk mengambil tiket atau membayar jalan tol.
2. Antrian
pengambilan DNU dan DNS mahasiswa Gunadarma di loket 1 BAAK.
3. Antrian dalam
pembelian tiket di bioskop.
4. Menunggu pesanan
pada suatu restoran.
5. Antrian pesawat
di lapangan udara.
6. Peralatan yang
menunggu diservis.
7. Kedatangan kapal
di suatu pelabuhan.
8. Antrian
pembayaran listrik.
Model antrian paling
tidak memerlukan 3 jenis data, yaitu:
1. Tingkat
kedatangan rata-rata langganan untuk mendapatkan pelayanan.
2. Tingkat pelayanan
rata-rata.
3. Jumlah fasilitas
pelayanan.
Sedangkan
elemen-elemen yang membentuk system antrian adalah:
1. Populasi masukan
(input)
Yaitu jumlah total
unit yang memerlukan pelayanan dari waktu ke waktu atau disebut jumlah total
langganan potensial. Input dapat berupa populasi orang, barang, komponen atau
kertas kerja yang dating pada system untuk dilayani. Asumsi yang digunakan
untuk input dalam antrian adalah terbatas.
2. Arriver pattern
(pola kedatangan) adalah dengan cara bagaimana individu-individu dari populasi
memasuki system. Untuk pola kedatangan menggunakan asumsi distribusi
probabilitas poisson, yaitu salah satu dari pola-pola kedatangan yang paling
umum bila kedatangan didistribusikan secara random. Ini terjadi karena
distribusi poisson menggambarkan jumlah kedatangan per unit waktu bila sejumlah
besar variable-variabel random mempengaruhi tingkat kedatangan. Bila pola
kedatangan individu-individu mengikuti suatu distribusi poisson, maka waktu
antar kedatangan atau inter arriver time (waktu kedatangan setiap individu)
adalah random) dan mengikuti suatu distribusi eksponential.
3. Disiplin antrian
Disiplin antrian
menunjukan pedoman keputusan yang digunakan untuk menyeleksi individu-individu
yang memasuki antrian untuk dilayani terlebih dahulu.
Macam-macam disiplin
antrian:
a.First come first
served (FCFS)
b.Shortest operation
(service) time (SOT)
c.Last come first
served (LCFS)
d.Longest operating
time (LOT)
e.Service in random
order (SIRO)
f.Emergency first or
critical condition first.
4. Kepanjangan
antrian
Kepanjangan antrian
ada yang terbatas dan tidak terbatas.
5. Tingkat pelayanan
Waktu pelayanan
(sevice time) adalah waktu yang digunakan untuk melayani individu-individu
dalam suatu system. Apabila waktu pelayanan mengikuti distribusi eksponensial
atau distribusi acak, waktu pelayanan (unit/jam) akan mengikuti ditribusi
poisson.
6. Keluaran (exit)
Sesudah individu
selesai dilayani, maka ia akan keluar system.